Sulit turunnya suku bunga kredit memunculkan dugaan terjadinya kartel suku bunga oleh komisi pengawas bisnis. Namun kalangan perbankan menyangkal dan mengatakan hal itu sebagai buntut dari biaya tinggi.
Suku bunga kredit perbankan yang tak kunjung turun memang hal yang cukup aneh bagi masyarakat umum. Padahal suku bunga bank sentral yang menjadi acuan bank sudah terlalu sering diturunkan, bahkan kini menyentuh level terendah sepanjang sejarah.
Mungkin itulah yang membuat lembaga pengawas persaingan usaha curiga ada kartel dalam penetapan suku bunga di perbankan nasional. Yang menjadi landasan kecurigaan itu, selain bunga bank yang tak mengikuti bunga acuan, juga tingginya margin bunga serta tingginya biaya operasional. “Ini menjadi kecurigaan utama. BI Rate sudah menurun, tapi suku bunga pinjaman tidak turun signifikan,” kata pejabat Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU), Syarkawi Rauf.
Tingginya selisih bunga antara pinjaman dan simpanan juga menjadi dasar perkiraan dari KPPU ditambah lagi ada sejumlah bank yang menguasai pangsa pasar yang besar. Saat ini net interest margin (NIM) perbankan masih bertengger di kisaran 5 persen. “Ini bisa jadi indikator adanya permainan suku bunga di perbankan,” kata Syarkawi.
Untuk mendukung kesimpulan itu, Tim Kajian dan Tim Monitoring KPPU telah mengumpulkan informasi awal tentang struktur pasar suku bunga perbankan. Laporan itu menjadi dasar bagi KPPU untuk menyelidiki dugaan kartel atas tingginya suku bunga. “Kami akan menyelidiki, apakah benar tingginya suku bunga perbankan ini karena tingginya overhead cost atau karena kartel,” kata Syarkawi.
KPPU akan menyoroti dua hal untuk mendeteksi adanya kartel suku bunga yakni regulasi, dan koordinasi atau kebijakan. Jika beberapa bank terutama yang menguasai pasar terindikasi berkoordinasi dalam menentukan suku bunga maka hal itu bisa dinyatakan sebagai kartel. Kongkalikong semacam itu menutup terjadinya persaingan dan peluang penurunan penurunan bunga pada titik yang logis.
Setelah ditemukan bukti-bukti kuat, baru kemudian KPPU akan menentukan apakah dugaan kartel ini masuk sebagai perkara atau tidak. “Kartel adalah perilaku persaingan tidak sehat. Selain dilarang UU Nomor 5/1999 juga jelas bisa menghambat pencapaian pertumbuhan ekonomi,” tutur Syarkawi.
Sebelum tahun berakhir, KPPU menjanjikan akan sudah mengeluarkan keputusan apakah industri perbankan melakukan praktik oligopoil atau tidak.
Tuduhan adanya kartel dalam perbankan disangkal oleh empat institusi dalam industri. Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Lembaga Penjamin Simpanan dan Perhimpunan Bank-Bank Nasional (Perbanas) kompak mengatakan tidak ada praktik kartel ataupun oligopoli di perbankan.
“Kami tegaskan, di perbankan Indonesia tidak ada kartel suku bunga kredit. Semua bank berkompetisi memberikan penawaran bunga kredit terbaiknya karena mereka juga wajib mencantumkan suku bunga kreditnya,” kata Direktur Akunting dan Sistem Pembayaran BI, Boedi Armanto.
Tingginya suku bunga kredit disebabkan karena struktur biaya di perbankan nasional masih tinggi, khususnya biaya over head dan biaya lain-lain yang harus dikeluarkan perbankan.
Selain itu, ekspansi yang terus dilakukan juga menambah besar pengeluaran perbankan. Biaya penambahan jumlah kantor, membangun infrastruktur, IT, hingga biaya sumber daya manusia (SDM) merupakan beberapa pengeluaran terbesar bank. “Suku bunga kita masih tinggi disebabkan karena struktur biaya kredit tersebut juga masih tinggi. Ini sebabnya konsumen menanggung bunga tinggi,” kata Boedi.
Luasnya wilayah Indonesia dan banyak yang terpisah oleh laut, membuat bank harus berinvestasi dengan dana yang tidak sedikit. Meski begitu, jika dibandingkan dengan di negara-negara lain, Boedi menilai Indonesia suku bunga kredit Indonesia cukup bersaing. “Tapi kalau perbankan Indonesia dibandingkan dengan perbankan di Malaysia dan Singapura, rasanya tidak seimbang,” katanya.
Suku bunga kredit di perbankan Malaysia dan Singapura cenderung lebih rendah karena kedua negara tersebut tidak masif dalam membuka kantor cabang. Tingginya bunga karena biaya yang ditanggung perbankan tanah air juga tinggi. “Biaya untuk membangun kantor cabang di Jawa, Kalimantan dan Papua pun berbeda. Sehingga hitungan cost ini nanti akan membesar karena hal tersebut merupakan overhead cost-nya,” kata Boedi.
Namun demikian bukan berarti, regulator tidak berupaya untuk terus menurunkan suku bunga saat ini. Salah satu strategi yang saat ini tengah dijajaki adalah dengan mendorong bank mengembangkan layanan branchless banking. Layanan tanpa harus mendirikan kantor cabang ini bisa memperkecil cost perbankan. Sementara untuk daerah terpencil (remote), akses perbankan masih bisa dilakukan dengan cara menemui nasabah secara langsung yang dilakukan oleh agen perbankan.
Sementara itu, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muliaman Hadad menilai, perlu penelitian lebih lanjut terkait pernyataan KPPU atas dugaan adanya kartel suku bunga bank. “Itu perlu diteliti, apa benar ada praktik yang bersifat oligopoli,” ujarnya. Selama ini, Muliaman melihat persaingan antarbank di dalam negeri masih cukup sehat. Namun, dia meminta lembaga yang berwenang dalam hal ini, Bank Indonesia, bisa berkoordinasi dengan KPPU agar dugaan kartel bank itu bisa diluruskan. “Kalau sudah termasuk wewenang kami, pasti akan jadi perhatian kami,” ujar Muliaman.
Sebenarnya, kata Muliaman, beberapa bank sudah menurunkan suku bunga mereka hingga ke level single digit. “Tapi kalau ada yang minta diturunkan lagi, saya juga setuju.”
Sulit Dibuktikan
Indikasi praktik kartel sejatinya tidak hanya terjadi di Indonesia. Beberapa negara seperti Amerika Serikat dan Inggris yang sistem perbankannya sudah maju juga diindikasikan terjadi praktik yang sama. Meski demikian, sebagaimana di kedua negara itu, kartel atau praktik oligopoli sulit dibuktikan. “Pembuktian kartel itu lebih rumit dari membongkar kasus korupsi. Dibutuhkan bukti yang cukup mendalam,” tukas Syarkawi dari KPPU.
Untuk membuktikan adanya kartel suku bunga, salah satunya dengan melihat fenomena pasar perbankan yang dikuasai atau didominasi beberapa bank saja. Hal ini bisa juga disebut oligopoli. “Oligopoli akan berpengaruh kepada perilaku perbankan. Di mana bank-bank melakukan kolusi yang akan mengakibatkan adanya kesepakatan bersama untuk menentukan suku bunga kredit perbankan,” tandas Syarkawi.
Apa yang diupayakan oleh KPPU didukung oleh kalangan politisi. Wakil Ketua Komisi XI Harry Azhar Azis meminta lembaga itu segera membuktikan adanya dugaan kartel suku bunga kredit, supaya industri perbankan nasional menjadi lebih sehat.
Menurut Harry langkah KPPU mencari data sudah tepat, terutama untuk menelusuri apakah ada praktik kartel pada perbankan. “Kami setuju dengan langkah itu. DPR masih memantau perkembangannya terlebih dahulu, sehingga belum memutuskan akan menggelar rapat dengar pendapat mengenai permasalahan dugaan kartel,” ungkap Harry.
Penelusuran itu, nantinya akan menjawab pertanyaan apakah dugaan kartel hanya terjadi pada sektor kredit yang memiliki banyak permintaan. “Bank selalu beralasan bunga kredit dipatok berdasarkan perhitungan biaya dana. Sebenarnya, perlu dipecah lagi, apakah biaya dana itu dihitung sendiri-sendiri per sektor atau secara keseluruhan,” kata Harry.
Struktur perbankan nasional saat ini diakui masih didominasi oleh perbankan besar saat ini. Berdasarkan data, 16 bank besar bisa menguasai hampir 60 persen terhadap total aset industri perbankan. Jika diperas lagi, empat bank milik negara menguasai 35 persen pasar industri perbankan.
Harry mengatakan apabila benar ada praktek kartel suku bunga, berarti perbankan tidak bisa menjalankan fungsinya dengan baik. “Misalnya, bank BUMN melakukan praktik itu, maka bank pelat merah hanya diarahkan untuk mencetak laba, menghasilkan dividen, dan membayar pajak saja,” ujar dia.
Sementara itu menurut pengamat perbankan Lana Soelistyaningsih, ada banyak rumusan untuk mengindikasikan adanya praktik kartel atau tidak. Di antaranya dengan menggunakan Concentration Ratio 4 (CR4) dan Herfindahl-Hirschman Index (HHI).
Dalam rumus CR4, dihitung dengan cara menjumlahkan total seluruh aset yang dimiliki 4 bank besar dibagi total aset seluruh bank yang ada kemudian dikalikan 100 persen. “Jika hasilnya antara 85 persen lebih, berarti ada indikasi kartel,” jelas dia. Lana menambahkan bahwa hasil tersebut harus dikomparasikan dengan rumus lain, namun hasilnya pasti mendekati. Concentration ratio sejatinya tidak harus empat perusahaan, bisa tiga (CR3), atau lima (CR5).
HHI juga tidak terlalu sulit, tapi jumlah seluruh perusahaan di sebuah industri harus diketahui. Skor HHI didapat dengan cara menjumlahkan hasil kuadrat pangsa pasar tiap perusahaan. Kalau suatu industri tidak terkonsentrasi, HHI akan mendekati nol, sebaliknya kalau sangat terkonsentrasi akan mendekati 10.000. Atau jika ingin dinyatakan dalam persentase, tinggal dibagi 100 saja.
Menurut pengamat ekonomi dari Universitas Gadjah Mada, A Prasetyantoko, dalam sebuah tulisan, asset 10 bank terbesar menguasai sekitar 61 persen total aset perbankan. sementara lima bank terbesar setara dengan 51,6 persen dan 3 bank terbesar menguasai 38,4 persen aset perbankan. Dilihat dari struktur seperti ini, jelas bahwa sistem perbankan di Indonesia bias pada bank besar. “Artinya, makin besar bank, makin besar pula tingkat akumulasi asetnya sehingga cenderung makin besar menguasai pasar,” tulisnya.
Rabu, 15 Mei 2013
Secercah Harap Penurunan Bunga
Suku bunga bank yang tinggi dinilai menghambat potensi pertumbuhan ekonomi ke level yang lebih tinggi lagi. Suku bunga tinggi juga membuka peluang berulangnya krisis ekonomi seperti yang terjadi pada lima belas tahun lalu.
Pada saat bank sentral menurunkan suku bunga acuan, itu adalah sinyal bahwa lembaga itu menginginkan lebih banyak peminjam ketimbang penyimpan dana. Langkah itu juga bisa dilihat sebagai cara untuk meningkatkan pasar saham dan dengan demikian sebagai menciptakan efek kekayaan bagi individu. Dan ujung yang ingin dicapai tentunya adalah pertumbuhan ekonomi. Dalam beberapa tahun terakhir, hal itu sudah menjadi norma di Amerika, Jepang dan negara-negara di Eropa di saat bank sentralnya terus mempertahankan suku bunga rendah bahkan mendekati nol persen. Kebijakan bunga rendah dilakukan dalam upaya mereka mencari-cari cara menumbuhkan perekonomian dan lepas dari krisis yang membelit mereka sejak 2008. Ketika pada tahun itu, mereka memangkas suku bunga jangka pendek mendekati nol dan mulai membeli obligasi, semua orang menganggap langkah-langkah yang luar biasa akan segera dibatalkan ketika ekonomi pulih. Namun hingga kini tanda-tanda pemulihan ekonomi tidak jua muncul. Yang terjadi di Indonesia bisa dibilang kebalikannya. Bank Indonesia terus menerus menurunkan suku bunga induk (BI Rate) sejak akhir 2008, persis ketika bank sentral negara lain juga melakukannya. Sampai kini, BI Rate sudah dipangkas sebesar 375 basis poin dari posisinya saat itu 9,50 persen. Akan tetapi ketika melihat suku bunga kredit, maka penurunannya tidak sebesar yang terjadi pada bunga acuan. Pada akhir 2008, suku bunga kredit berkisar 11 persen hingga 24 persen, berdasarkan data BI. Empat tahun kemudian bunga pinjaman masih berkisar 8 persen hingga 19,5 persen. Ajaibnya, dengan tingkat bunga yang tinggi –terutama pada pinjaman konsumtif –perekonomian masih bisa mencatatkan pertumbuhan positif. Sepanjang 2008, ekonomi RI tumbuh 6,1 persen dan pada 2012 mencapai 6,23 persen. Lalu apa yang bakal terjadi jika saja perbankan memberi bunga yang lebih rendah lagi sejak tahun 2008, untuk para peminjam yang menjalankan usahanya di sektor riil? Bisa jadi pertumbuhan ekonomi nasional saat ini lebih dahsyat dari yang dicapai sekarang. "Kalau suku bunga bisa turun, maka perekonomian kita bisa lebih cepat dan pemerataan bisa lebih terjamin," kata pengamat ekonomi Purbaya Yudhi Sadewa. "Suku bunga tinggi menyebabkan keuntungan perbankan menjadi besar. Untuk perbankan, bagus, tapi buat perekonomian tidak bagus.” Menurut dia, ada hubungan perbandingan terbalik antara suku bunga yang rendah dengan pertumbuhan ekonomi. Bila suku bunga rendah, maka akan ada stimulus positif untuk ekonomi Indonesia merangkak naik karena ada kegairahan dari industri untuk bertumbuh. Hal ini yang nantinya akan membuat laju pertumbuhan ekonomi terus melaju kencang. China adalah contoh konkrit bagaimana suku bunga rendah telah memacu industri di negara itu dalam dua dekade terakhir. Meski bukan satu-satunya faktor –karena biaya tenaga kerja juga yang murah– suku bunga rendah telah mendorong ekonomi negara Tirai Bambu itu menjadi salah satu kekuatan ekonomi baru sekarang ini. Jika Indonesia mulai menerapkan suku bunga rendah bukan tidak mungkin cita-cita untuk menjadi negara maju pada tahun 2030 bisa tercapai lebih cepat. Pemerintah memang gencar menggembar-gemborkan bahwa ekonomi Indonesia akan berdiri sejajar dengan negara-negara maju saat ini jika pertumbuhan bisa diakselerasi atau minimal dipertahankan di kisaran 6 persen seperti sekarang. Dengan pertumbuhan selalu di kisaran 6 – 6,5 persen dalam lima tahun terakhir, tingkat ekonomi Indonesia dinilai paling stabil di dunia. Selain itu besarnya potensi ekonomi di luar Jawa yang belum tergarap menjadi senjata ampuh untuk mendorong perekonomian dalam beberapa tahun mendatang. Meski begitu, pekerjaan rumah yang harus dibenahi sekarang ini adalah menurunkan suku bunga ke level yang lebih rendah lagi terutama bagi usaha mikro dan kecil agar perekonomian bisa terdongkrak. Utang Swasta Suku bunga tinggi memang telah menahan para pengusaha untuk meminjam uang di bank dalam negeri dan jika mendesak mereka melakukannya kepada bank negara-negara yang suku bunganya super-murah. Jepang, Amerika dan negara-negara Eropa menjadi tujuannya. Kecenderungan itu lambat laun terasa dampaknya akhir-akhir ini, di saat utang luar negeri swasta meningkat lebih agresif dari utang pemerintah. Hingga 31 Desember 2012, utang swasta sudah mencapai 125 miliar dollar AS, dan di saat yang sama utang pemerintah tercatat 126 miliar dollar AS. Namun pada Januari 2013 jumlahnya menjadi setara karena pemerintah berhasil mengurangi utang menjadi 125,48 miliar dollar AS sedangkan swasta relatif tak berubah menjadi 125,05 dollar AS. Jumlah tersebut didominasi sektor keuangan, jasa perusahaan dengan nominal 33,45 miliar dollar AS atau mencapai 26,8 persen. “Utang luar negeri swasta meningkat karena suku bunga bank luar negeri lebih murah dibandingkan dengan utang dari perbankan didalam negeri,” kata Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia Sofjan Wanandi. Dengan kondisi itu tidak mengherankan jika perusahaan swasta lebih memilih utang luar negeri, bukan karena teknologi perbankannya lebih canggih atau pelayanannya lebih baik. Tetapi karena suku bunga pinjaman di luar negeri lebih rendah perbankan di dalam negeri. “Di Indonesia bunganya bisa mencapai 10 persen, sedangkan di luar negeri bisa 1 persen,” kata Sofjan. Pada akhirnya, hal itu berdampak secara langsung pada keuangan negara. Pada 2012, baik transaksi berjalan pemerintah maupun swasta mengalami defisit. Kinerja transaksi berjalan pada tahun 2012 mengalami defisit 24,18 miliar dollar AS atau sekitar 2,8 persen dari produk domestik bruto (PDB). Kondisi ini jelas menjadi peringatan serius bagi pemerintah karena pada tahun-tahun sebelumnya, transaksi berjalan swasta yang surplus selalu cukup untuk menutupi defisit pemerintah sehingga neracanya bertahan positif. Selain itu, defisit juga diprediksi akan menghantam Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN). Ekonom Iman Sugema berani memprediksi APBN tahun ini akan sebesar 1,7 persen dari PDB, sedikit lebih tinggi ketimbang defisit APBN yang ditetapkan Pemerintah sebesar 1,6 persen dari PDB. Jika dua defisit itu terjadi maka ekonomi RI secara resmi mengalami defisit kembar (twin deficit). Dan jika ini berlangsung maka risiko krisis seperti yang dialami tahun 1997-1998 bukan mustahil akan terjadi lagi. “Pengalaman krisis tahun 1997-1998 di antaranya karena defisit kembar yang dibiayai dengan porsi utang swasta yang besar,” kata ekonom Samuel Sekuritas Indonesia Lana Soelistianingsih. Krisis lima belas tahun lalu itu memang memberikan trauma tersendiri bagi perekonomian Indonesia. Di masa itu, kondisinya hampir mirip yaitu utang luar negeri swasta meningkat karena didorong oleh disparitas suku bunga kredit antara Indonesia dan luar negeri (negara-negara kreditor). Dengan pengalaman pahit yang membuat parut pada ekonomi itu tentu tida semestinya otoritas perbankan bermain-main dengan upaya menurunkan suku bunga. Beberapa kalangan meminta otoritas otoritas moneter segera menciptakan kondisi perbankan yang baik, sehingga memberikan efek efisiensi di dalam perbankan yang nantinya akan berdampak pada penurunan bunga kredit. “Mestinya utang luar negeri bisa mulai ditekan. Sementara itu, upaya menekan suku bunga kredit lebih lanjut harus terus dilanjutkan,” kata ekonomi dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Toni Prasentiantono.
Belum Efisien
Sementara itu Bank Indonesia mengakui, enggannya perbankan dalam menurunkan bunga disebabkan karena persoalan inefisiensi. Oleh karena itu, BI akan terus mendorong bank untuk meningkatkan efisiensi agar bisa menekan suku bunga perbankan. Menurut data BI dalam beberapa tahun terakhir memang ada penurunan rata-rata suku bunga kredit yang besarnya mencapai 3,33 persen. Namun, bank sentral mengaku belum puas, dan akan mendorong tingkat efisiensi perbankan sehingga suku bunga menjadi lebih baik. “Sudah ada perbaikan, tapi belum puas. Data-data yang sudah dicapai dibanding dengan negara-negara lain masih belum cukup terkait kinerja suku bunga,” ujar Perry Warjiyo Deputi Gubernur Bank Indonesia yang baru terpilih. Bank sentral mencatat rata-rata suku bunga kredit membaik dalam lima tahun terakhir, sebesar 15,39 persen pada posisi akhir 2008, 14,37 persen pada akhir 2009, 13,24 persen pada akhir 2010, 12,74 persen pada akhir 2011, dan 12,06 persen pada akhir 2012. Menurut Perry, dalam setahunan suku bunga kredit investasi, kredit modal kerja, dan kredit konsumsi menurun masing-masing sebesar 76 basis poin (bps), 66 bps dan 57 bps. Sementara rata-rata suku bunga deposito rupiah satu bulan dalam setahunan turun sebesar 76 bps menjadi 5,59 persen. Dia menambahkan, selisih bunga kredit dibandingkan suku bunga deposito satu bulan, mencapai 6,47 persen pada Desember 2012, sedikit lebih tinggi dibanding pada Desember 2011 sebesar 6,39 persen. Untuk itu, saat menjalani uji kelayakan dan kepatutan di depan anggota DPR bulan lalu, Perry menyatakan bahwa mengarahkan suku bunga perbankan ke level yang lebih rendah lagi merupakan fokus utamanya jika menjadi Deputi Gubernur. Selain itu terpilihnya Agus DW Martowardojo menjadi Gubernur BI juga memberikan harapan besar bagi penurunan suku bunga bank. Agus adalah seorang bankir yang diakui kehebatannya saat menjadi Direktur Utama di Bank Mandiri dan Bank Permata, sebelum ditunjuk menjadi Menteri Keuangan pada 2010. Dengan pengalamannya sebagai bankir Agus diharapkan bisa menekan bank-bank untuk menurunkan bunga kredit.
Pada saat bank sentral menurunkan suku bunga acuan, itu adalah sinyal bahwa lembaga itu menginginkan lebih banyak peminjam ketimbang penyimpan dana. Langkah itu juga bisa dilihat sebagai cara untuk meningkatkan pasar saham dan dengan demikian sebagai menciptakan efek kekayaan bagi individu. Dan ujung yang ingin dicapai tentunya adalah pertumbuhan ekonomi. Dalam beberapa tahun terakhir, hal itu sudah menjadi norma di Amerika, Jepang dan negara-negara di Eropa di saat bank sentralnya terus mempertahankan suku bunga rendah bahkan mendekati nol persen. Kebijakan bunga rendah dilakukan dalam upaya mereka mencari-cari cara menumbuhkan perekonomian dan lepas dari krisis yang membelit mereka sejak 2008. Ketika pada tahun itu, mereka memangkas suku bunga jangka pendek mendekati nol dan mulai membeli obligasi, semua orang menganggap langkah-langkah yang luar biasa akan segera dibatalkan ketika ekonomi pulih. Namun hingga kini tanda-tanda pemulihan ekonomi tidak jua muncul. Yang terjadi di Indonesia bisa dibilang kebalikannya. Bank Indonesia terus menerus menurunkan suku bunga induk (BI Rate) sejak akhir 2008, persis ketika bank sentral negara lain juga melakukannya. Sampai kini, BI Rate sudah dipangkas sebesar 375 basis poin dari posisinya saat itu 9,50 persen. Akan tetapi ketika melihat suku bunga kredit, maka penurunannya tidak sebesar yang terjadi pada bunga acuan. Pada akhir 2008, suku bunga kredit berkisar 11 persen hingga 24 persen, berdasarkan data BI. Empat tahun kemudian bunga pinjaman masih berkisar 8 persen hingga 19,5 persen. Ajaibnya, dengan tingkat bunga yang tinggi –terutama pada pinjaman konsumtif –perekonomian masih bisa mencatatkan pertumbuhan positif. Sepanjang 2008, ekonomi RI tumbuh 6,1 persen dan pada 2012 mencapai 6,23 persen. Lalu apa yang bakal terjadi jika saja perbankan memberi bunga yang lebih rendah lagi sejak tahun 2008, untuk para peminjam yang menjalankan usahanya di sektor riil? Bisa jadi pertumbuhan ekonomi nasional saat ini lebih dahsyat dari yang dicapai sekarang. "Kalau suku bunga bisa turun, maka perekonomian kita bisa lebih cepat dan pemerataan bisa lebih terjamin," kata pengamat ekonomi Purbaya Yudhi Sadewa. "Suku bunga tinggi menyebabkan keuntungan perbankan menjadi besar. Untuk perbankan, bagus, tapi buat perekonomian tidak bagus.” Menurut dia, ada hubungan perbandingan terbalik antara suku bunga yang rendah dengan pertumbuhan ekonomi. Bila suku bunga rendah, maka akan ada stimulus positif untuk ekonomi Indonesia merangkak naik karena ada kegairahan dari industri untuk bertumbuh. Hal ini yang nantinya akan membuat laju pertumbuhan ekonomi terus melaju kencang. China adalah contoh konkrit bagaimana suku bunga rendah telah memacu industri di negara itu dalam dua dekade terakhir. Meski bukan satu-satunya faktor –karena biaya tenaga kerja juga yang murah– suku bunga rendah telah mendorong ekonomi negara Tirai Bambu itu menjadi salah satu kekuatan ekonomi baru sekarang ini. Jika Indonesia mulai menerapkan suku bunga rendah bukan tidak mungkin cita-cita untuk menjadi negara maju pada tahun 2030 bisa tercapai lebih cepat. Pemerintah memang gencar menggembar-gemborkan bahwa ekonomi Indonesia akan berdiri sejajar dengan negara-negara maju saat ini jika pertumbuhan bisa diakselerasi atau minimal dipertahankan di kisaran 6 persen seperti sekarang. Dengan pertumbuhan selalu di kisaran 6 – 6,5 persen dalam lima tahun terakhir, tingkat ekonomi Indonesia dinilai paling stabil di dunia. Selain itu besarnya potensi ekonomi di luar Jawa yang belum tergarap menjadi senjata ampuh untuk mendorong perekonomian dalam beberapa tahun mendatang. Meski begitu, pekerjaan rumah yang harus dibenahi sekarang ini adalah menurunkan suku bunga ke level yang lebih rendah lagi terutama bagi usaha mikro dan kecil agar perekonomian bisa terdongkrak. Utang Swasta Suku bunga tinggi memang telah menahan para pengusaha untuk meminjam uang di bank dalam negeri dan jika mendesak mereka melakukannya kepada bank negara-negara yang suku bunganya super-murah. Jepang, Amerika dan negara-negara Eropa menjadi tujuannya. Kecenderungan itu lambat laun terasa dampaknya akhir-akhir ini, di saat utang luar negeri swasta meningkat lebih agresif dari utang pemerintah. Hingga 31 Desember 2012, utang swasta sudah mencapai 125 miliar dollar AS, dan di saat yang sama utang pemerintah tercatat 126 miliar dollar AS. Namun pada Januari 2013 jumlahnya menjadi setara karena pemerintah berhasil mengurangi utang menjadi 125,48 miliar dollar AS sedangkan swasta relatif tak berubah menjadi 125,05 dollar AS. Jumlah tersebut didominasi sektor keuangan, jasa perusahaan dengan nominal 33,45 miliar dollar AS atau mencapai 26,8 persen. “Utang luar negeri swasta meningkat karena suku bunga bank luar negeri lebih murah dibandingkan dengan utang dari perbankan didalam negeri,” kata Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia Sofjan Wanandi. Dengan kondisi itu tidak mengherankan jika perusahaan swasta lebih memilih utang luar negeri, bukan karena teknologi perbankannya lebih canggih atau pelayanannya lebih baik. Tetapi karena suku bunga pinjaman di luar negeri lebih rendah perbankan di dalam negeri. “Di Indonesia bunganya bisa mencapai 10 persen, sedangkan di luar negeri bisa 1 persen,” kata Sofjan. Pada akhirnya, hal itu berdampak secara langsung pada keuangan negara. Pada 2012, baik transaksi berjalan pemerintah maupun swasta mengalami defisit. Kinerja transaksi berjalan pada tahun 2012 mengalami defisit 24,18 miliar dollar AS atau sekitar 2,8 persen dari produk domestik bruto (PDB). Kondisi ini jelas menjadi peringatan serius bagi pemerintah karena pada tahun-tahun sebelumnya, transaksi berjalan swasta yang surplus selalu cukup untuk menutupi defisit pemerintah sehingga neracanya bertahan positif. Selain itu, defisit juga diprediksi akan menghantam Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN). Ekonom Iman Sugema berani memprediksi APBN tahun ini akan sebesar 1,7 persen dari PDB, sedikit lebih tinggi ketimbang defisit APBN yang ditetapkan Pemerintah sebesar 1,6 persen dari PDB. Jika dua defisit itu terjadi maka ekonomi RI secara resmi mengalami defisit kembar (twin deficit). Dan jika ini berlangsung maka risiko krisis seperti yang dialami tahun 1997-1998 bukan mustahil akan terjadi lagi. “Pengalaman krisis tahun 1997-1998 di antaranya karena defisit kembar yang dibiayai dengan porsi utang swasta yang besar,” kata ekonom Samuel Sekuritas Indonesia Lana Soelistianingsih. Krisis lima belas tahun lalu itu memang memberikan trauma tersendiri bagi perekonomian Indonesia. Di masa itu, kondisinya hampir mirip yaitu utang luar negeri swasta meningkat karena didorong oleh disparitas suku bunga kredit antara Indonesia dan luar negeri (negara-negara kreditor). Dengan pengalaman pahit yang membuat parut pada ekonomi itu tentu tida semestinya otoritas perbankan bermain-main dengan upaya menurunkan suku bunga. Beberapa kalangan meminta otoritas otoritas moneter segera menciptakan kondisi perbankan yang baik, sehingga memberikan efek efisiensi di dalam perbankan yang nantinya akan berdampak pada penurunan bunga kredit. “Mestinya utang luar negeri bisa mulai ditekan. Sementara itu, upaya menekan suku bunga kredit lebih lanjut harus terus dilanjutkan,” kata ekonomi dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Toni Prasentiantono.
Belum Efisien
Sementara itu Bank Indonesia mengakui, enggannya perbankan dalam menurunkan bunga disebabkan karena persoalan inefisiensi. Oleh karena itu, BI akan terus mendorong bank untuk meningkatkan efisiensi agar bisa menekan suku bunga perbankan. Menurut data BI dalam beberapa tahun terakhir memang ada penurunan rata-rata suku bunga kredit yang besarnya mencapai 3,33 persen. Namun, bank sentral mengaku belum puas, dan akan mendorong tingkat efisiensi perbankan sehingga suku bunga menjadi lebih baik. “Sudah ada perbaikan, tapi belum puas. Data-data yang sudah dicapai dibanding dengan negara-negara lain masih belum cukup terkait kinerja suku bunga,” ujar Perry Warjiyo Deputi Gubernur Bank Indonesia yang baru terpilih. Bank sentral mencatat rata-rata suku bunga kredit membaik dalam lima tahun terakhir, sebesar 15,39 persen pada posisi akhir 2008, 14,37 persen pada akhir 2009, 13,24 persen pada akhir 2010, 12,74 persen pada akhir 2011, dan 12,06 persen pada akhir 2012. Menurut Perry, dalam setahunan suku bunga kredit investasi, kredit modal kerja, dan kredit konsumsi menurun masing-masing sebesar 76 basis poin (bps), 66 bps dan 57 bps. Sementara rata-rata suku bunga deposito rupiah satu bulan dalam setahunan turun sebesar 76 bps menjadi 5,59 persen. Dia menambahkan, selisih bunga kredit dibandingkan suku bunga deposito satu bulan, mencapai 6,47 persen pada Desember 2012, sedikit lebih tinggi dibanding pada Desember 2011 sebesar 6,39 persen. Untuk itu, saat menjalani uji kelayakan dan kepatutan di depan anggota DPR bulan lalu, Perry menyatakan bahwa mengarahkan suku bunga perbankan ke level yang lebih rendah lagi merupakan fokus utamanya jika menjadi Deputi Gubernur. Selain itu terpilihnya Agus DW Martowardojo menjadi Gubernur BI juga memberikan harapan besar bagi penurunan suku bunga bank. Agus adalah seorang bankir yang diakui kehebatannya saat menjadi Direktur Utama di Bank Mandiri dan Bank Permata, sebelum ditunjuk menjadi Menteri Keuangan pada 2010. Dengan pengalamannya sebagai bankir Agus diharapkan bisa menekan bank-bank untuk menurunkan bunga kredit.
Rabu, 10 April 2013
Menguji Ikhtiar BI
Bank
Indonesia akan memberlakukan benchmark
margin bunga bersih perbankan. Meski dilakukan untuk menurunkan bunga kredit yang dinilai
masih tinggi, kalangan perbankan masih menentangnya.
Boleh dibilang sejak akhir 2008 lalu, perbankan tidak lagi mengikuti apa
yang diinginkan Bank Indonesia, terutama soal suku bunga. Saat itu, BI yang
mulai rajin menurunkan suku bunga acuan tidak direspons oleh bank meski
tenggang waktu yang biasanya dibutuhkan bank untuk menurunkan bunga kredit
terlampaui.
Saat itu BI Rate yang berada pada posisi tertingginya di 9,50 persen mulai
diturunkan. Namun bank yang seharusnya sudah mulai mengikuti kebijakan itu
setelah tiga sampai enam bulan, tidak juga menurunkan bunga kredit.
Meski begitu, BI memakluminya karena di saat bersamaan perekonomian tengan
menghadapi kisruh subprime mortgage. Saat
itu dunia mulai mengobral kebijakan yang bertujuan untuk melindungi
perekonomian dalam negerinya masing-masing agar tidak terhempas dampak
kolapsnya kredit perumahaan AS. Apalagi masih di akhir 2008, perekonomian
nasional juga terhenyak oleh kasus bailout
Bank Century. BI menerima alasan bahwa saat itu bank terancam kekeringan
likuiditas.
Kemudian di saat perekonomian mulai memasuki tahap recovery pada 2010, ekonomi
global diganggu instabilitas politik di Jazirah Arab yang menekan harga minyak
dunia. Tak cukup sampai di situ, persoalan fiskal yang membelit kawasan Portugal,
Italia, Irlandia Greece, dan Spanyol (PIIGS) bergerak menjadi krisis dan memicu ekonomi
Eropa memanas. Meski tak terlalu besar, krisis Eropa itu berpotensi mengganggu
ekonomi Indonesia.
Potensi gangguan krisis Eropa direspons BI dengan memangkas BI Rate 25
basis poin ke level 6,50 persen untuk pertama kalinya pada 11 Oktober 2011
setelah bertahan selama sembilan bulan. Langkah ini dilakukan untuk menjaga
stabilitas nilai tukar rupiah dengan mempertimbangkan kemungkinan inflasi yang
tetap berada di bawah 5 persen. Akan tetapi sekali lagi bank tidak memberikan
respons seperti yang seharusnya.
Bank sentral tentu tidak tinggal diam. BI lalu melansir aturan yang mewajibkan
seluruh bank mengumumkan suku bunga utamanya atau prime lending rate kepada masyarakat melalui media massa. Kebijakan
itu bertujuan agar masyarakat bisa melihat bank mana yang memberikan suku bunga
kompetitif sehingga kemudian pengusaha bisa memilih bank yang menawarkan
tingkat suku bunga kredit paling rendah.
Dengan begitu meningkatnya permintaan kredit pada bank yang memberikan
bunga kompetitif akan diikuti oleh bank lain jika tidak ingin ditinggal
nasabah. “Kewajiban mengumumkan prime
lending rate akan mendorong kompetisi yang sehat di antara bank. Ke depan,
hal ini akan meningkatkan efisiensi bank-bank di Indonesia yang selanjutnya
akan dapat bersaing dengan perbankan di kawasan Asia,” kata Gubernur BI Darmin
Nasution saat itu.
Benchmark NIM
Dengan langkah itu, suku bunga kredit memang agak menurun mengikuti arahan
bank sentral. Kendati begitu, angkanya masih dua digit padahal BI Rate saat ini
sudah berada di level 5,75 persen terendah sepanjang sejarah. Untuk menekan
bunga kredit ke level yang lebih rendah, otoritas kemudian meluncurkan regulasi
baru yaitu menetapkan acuan (benchmark)
bagi penentuan margin bunga bersih (net
interest margin/ NIM) perbankan.
NIM adalah selisih antara bunga yang diterima setelah diperhitungkan dengan
dasar pengenaan pajak dengan biaya bunga.
Direktur Penelitian dan Pengaturan Perbankan BI Irwan Lubis mengatakan BI mengeluarkan
aturan benchmark NIM untuk menurunkan
bunga kredit perbankan yang masih tinggi. Benchmark ditetapkan berdasarkan
rata-rata industri sesuai bank umum kelompok usaha (BUKU).
Dalam Peraturan Bank Indonesia Nomor 14/26/2012 tentang izin berjenjang
atau multiple lisence, BI mengatur
kegiatan usaha dan jaringan kantor bank berdasarkan modal inti bank.
Berdasarkan modal inti tersebut, bank dikelompokkan dalam empat kelompok usaha
yakni Buku 1 bermodal inti kurang dari Rp1 triliun, BUKU 2 dengan modal inti
Rp1-5 triliun, BUKU 3 sebesar Rp5-30 triliun, dan BUKU 4 diatas Rp30 triliun.
Bank wajib menyampaikan rencana tindak penyesuaian kegiatan usaha, margin
bunga bersih, dan pemenuhan kewajiban penyaluran kredit atau pembiayaan
produktif, paling lambat akhir Maret 2013. BI akan melihat rencana tindak (action plan) itu dengan pertimbangan
NIM. "Bank yang NIM masih di atas rata-rata, harus punya action plan menurunkannya dan ada
insentif dan disinsentif," tegas Irwan.
Menurut Irwan, benchmark NIM ini tidak akan dipublikasikan karena hanya
digunakan sebagai pedoman pengawasan intrenal BI dalam bentuk surat edaran
internal.
Menanggapi rencana BI tersebut, Persatuan Bank Umum Nasional (Perbanas)
meminta bank sentral memikirkan ulang hal tersebut. Sebabnya, penerapan benchmark NIM ini dikhawatirkan akan
menekan pertumbuhan perbankan.
Menurut Ketua bidang Pengkajian Perbanas Raden Pardede, BI harus mempertimbangkan
tingkat risiko penyaluran kredit perbankan karena aturan tersebut. “Misalnya
bank BRI memiliki NIM tinggi karena risiko kreditnya tinggi yakni kredit usaha
mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Demikian juga dengan tingkat risiko kredit
bank BTPN dan Bank Danamon yang NIM-nya masih tinggi. Artinya karakteristik
setiap bank berbeda-beda,” jelas dia.
Bahkan, pelaku perbankan menilai penawaran bunga kredit di pasar sudah cukup
kompetitif sampai saat ini, sehingga memungkinkan penurunan biaya dana yang
mendukung penurunan NIM. BRI mengaku menargetkan tahun ini memangkas NIM 10
basis poin, kemudian Bank Danamon yang mengupayakan penurunan NIM ke level 9,7
persen.
Hingga akhir 2012, Bank Danamon mencatat posisi NIM di level 10,2 persen,
meningkat dibanding 9,6 persen pada akhir 2011. Menurut Chief Financial Officer
Bank Danamon Vera Eve Lim, kenaikan NIM terjadi seiring dengan penurunan biaya
dana khususnya di deposito yang turun 6 persen dari Rp51,62 triliun menjadi
Rp48,55 triliun. Sementara suku bunga kredit tercatat mengalami penurunan 20
basis poin dari 15 persen menjadi 14,8 persen. Sementara biaya dana turun 1,2
persen dari 5,7 persen menjadi 4,5 persen.
Oleh sebab itu, dengan melihat data Danamon, Raden menyarankan agar otoritas
juga melihat upaya bank dalam meningkatkan efisiensinya. "Bank juga
menggunakan profitnya untuk peningkatan modal. Tujuannya adalah ekspansi
usaha," ungkap dia.
Ekspansi usaha perbankan, kata Raden, sangat penting untuk meningkatkan
kapitalisasinya sehingga siap bersaing di kawasan. Saat ini, kendati produk
domestik bruto (PDB) Indonesia terbesar, mencapai sekitar 40 persen di ASEAN,
tidak ada bank lokal yang menjadi terbesar di kawasan itu. Singapura yang
merupakan negara terkecil di ASEAN yang menempatkan banknya sebagai terbesar di
kawasan ini, yakni DBS Group.
Pada Desember 2012, DBS mempunyai total aset sekitar Rp 2.784,44 triliun.
Jumlah itu sekitar 4,4 kali lipat dari aset Bank Mandiri yang sebesar Rp 635,62
triliun. Mandiri merupakan badan usaha milik negara (BUMN) dan memiliki aset
terbesar di industri perbankan Indonesia.
DBS mampu menarik dana masyarakat Rp 1.902,12 triliun dan menyalurkan
kredit Rp 1.677,64 triliun. Jumlah simpanan itu sekitar 3,9 kali lipat dari DPK
Bank Mandiri sebesar Rp 482,92 triliun. Namun, kredit yang disalurkan DBS
mencapai 4,3 kali lipat dari kredit Mandiri sebesar Rp 388,83 triliun akhir
tahun lalu.
Tingginya NIM di Indonesia juga membuat keuntungan bank makin besar. Bank
Mandiri misalnya yang mampu meraup laba bersih Rp 15,5 triliun tahun lalu. NIM
Mandiri sepanjang tahun 2012 mencapai 5,58 persen.
Tingginya kemampuan mencetak laba inilah yang membuat saham-saham perbankan
di Indonesia menjadi favorit, diburu investor asing maupun lokal.
Angsa Emas
Maka dari itu, pejabat Perbanas Raden Pardede mewanti-wanti agar BI
berhati-hati dalam menerapkan acuan NIM bagi perbankan. Hal tersebut akan
berisiko mengikis keunggulan yang selama ini dimiliki perbankan di Indonesia. “Ini
akan menjadi tragedi seperti memotong angsa bertelur emas,” kata dia.
Menurut Raden, biarkan saja keunggulan itu membantu peningkatan modal
maupun kapitalisasi pasar emiten perbankan Indonesia. Hal itu juga akan
menambah amunisi untuk bersaing dan bank nasional bisa tumbuh menjadi terbesar
di ASEAN.
Sesuai
data statistik perbankan Bank Indonesia (BI), NIM bank-bank umum di Tanah Air
masih berada di
atas 5 persen. NIM tertinggi terdapat pada kategori bank-bank umum swasta
nasional non devisa sebesar 8,84 persen. Sedangkan secara masing-masing bank,
ada bank yang masih mematok NIM diatas 10 persen misalnya Bank Tabungan
Pensiunan Negara (BTPN) dengan NIM 13 persen.
Lantas
apa yang menyebabkan NIM perbankan masih tinggi? Kepala Eksekutif Lembaga
Penjamin Simpanan (LPS) Mirza Adityaswara mengatakan terdapat dua hal yang
memungkinkan NIM menjadi tinggi. Pertama, kata Mirza, adalah biaya dana
(cost of fund) yang rendah dan kedua adalah suku bunga
kredit yang tinggi.
Bagi
sektor yang kurang kompettif, kata dia, bank akan memberikan bunga kredit yang
tinggi. Termasuk di dalamnya adalah sektor kredit mikro, yang bunganya masih di
kisara 20 persen - 30 persen. “Namun, jika semakin banyak orang berkompetisi masuk di kredit
mikro dengan sendirinya membuat bunga kredit mikro merendah,” kata Mirza,
Hanya
saja, Mirza berpendapat, kurang tepat apabila kinerja perbankan hanya dinilai
dari tingginya NIM. Menurut Mirza, fungsi intermediasi perbankan harusnya
menjadi acuan penilaian dari kinerja sektor perbankan. “Kalau bank itu tidak
menyalurkan kredit, hanya beli SBI, nah
itu bisa disalahkan. Misalnya, NIM nya tinggi tapi hanya beli SBI," tegas
Mirza.
Sementara itu, Ekonom Bank Mandiri Destry Damayanti menegaskan, NIM sebaiknya tidak dilihat dari nilai absolutnya atau
angka yang tertera, tetapi cost of fund.
Dia menguraikan, dengan level cost of
fund 5,5 persen untuk suku bunga sekitar 11 persen, berarti NIM-nya sekira 5,5
persen. “Nah NIM 5,5 persen itu berapa kalinya cost of fund? Kan cuma satu kalinya," papar Destry.
Dia
membandingkan dengan NIM perbankan di Singapura. Rata-rata biaya dana perbankan
di Singapura sekitar 0,3 persen dengan besaran bunga kredit 3 persen. Dengan
demikian NIM perbankan di Singapura berkiar sekira 2,5 persen. Artinya, posisi
NIM 2,5 persen itu lebih tinggi 8 kali dibanding cost of fund yang sebesar 0,3 persen.
Bagi
Direktur Utama PT Bank Mandiri Tbk Zulkifli Zaini menilai NIM yang tinggi merupakan
hal bagus bagi perbankan dalam negeri. Alasannya, ini menjadi gimik bagi
investor untuk menanamkan modalnya di Tanah Air.
Dia
juga menampik anggapan yang menyebutkan bahwa NIM yang tinggi disebabkan oleh
tingkat suku bunga kredit yang sangat tinggi. Menurutnya, yang menjadi kunci
adalah biaya dana atau cost of fund.
Jika cost of fund turun namun NIM
tidak berubah, maka bunga kreditnya turun. “Jadi yang penting itu menurunkan cost of fund," jelas Zulkifli.
Namun
demikian, Direktur Riset Ekonomi Grup Departemen Ekonomi dan Kebijakan Moneter
Bank Indonesia Endy Dwi Tjahjono berpendapat berbeda. Menurut dia, tingginya
NIM kurang menarik investor masuk ke Indonesia. Sebabnya, NIM yang tinggi
membuat biaya investasi lebih mahal oleh karena tingginya suku bunga kredit.
Tabel NIM, Pendapatan Bunga dan Aset
2012 2013
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul
Ags Sep Okt Nov Des
- Pendapatan
bunga bersih 183.471 169.889 176.666 183.510 185.970
189.115 191.240 192.862 195.023 196.860
198.231 200.338 218.105
- Rata-rata
total aset produktif 3.028.268 3.143.660
3.429.746 3.454.767 3.486.112
3.516.358 3.534.925 3.551.432
3.575.594 3.595.175 3.618.565
3.648.741 3.944.435
Berkah Inflasi yang Tersembunyi
Angka inflasi diprediksi akan lebih tinggi dari yang
ditetapkan otoritas karena banyaknya kejadian yang membuat harga-harga
terdongkrak. Meski demikian hal tersebut juga memberi dampak positif: mendorong
pertumbuhan.
Banyak yang terjadi pada bulan lalu. Setidaknya jika dilihat
dari kaca mata pengelolaan inflasi. Namun hal itu seharusnya sudah bisa
dimitigasi oleh Bank Indonesia, karena tugasnyalah untuk mengarahkan kebijakan
moneter pada kondisi atau perkiraan yang bakal terjadi pada 12 bulan ke depan.
Sepanjang tahun ini BI dipastikan akan berpapasan dengan
banyaknya kejadian yang kemungkinan akan meningkatkan inflasi. Sebut saja
kenaikan tarif listrik, kenaikan upah minimum regional, dan naiknya pengeluaran
masyarakat dan pemerintah menjelang pemilihan umum tahun depan.
Bahkan BI juga harus berhadapan dengan kejadian di luar
skenario. Kenaikan harga daging sapi akhir tahun lalu dan harga bawang merah
dan putih bulan lalu jelas merupakan kejadian di luar prediksi yang bisa
mendongkrak inflasi.
Belum lagi, perkembangan-perkembangan non ekonomi yang
seringkali meningkatkan ekspektasi inflasi publik seperti isu adanya kudeta dan
demonstrasi besar-besarn yang membuat masyarakat khawatir. Hal-hal seperti ini
tak bisa dipungkiri mengancam roda bisnis yang ujung-ujungnya menghampat
perekonomian.
Pada Februari lalu, Badan Pusat Statistik mengumumkan
inflasi sebesar 0,75 persen yang merupakan angka bulanan tertinggi selama 10
tahun terakhir. Sementara inflasi tahunan pada waktu yang sama mencapai 5,31
persen.
Kondisi itu jelas peringatan serius bagi otoritas moneter
yang hingga bulan lalu masih tetap mempertahankan suku bunga acuan di level
5,75 persen, tak bergerak selama setahun terakhir. Tingkat BI Rate tersebut
dinilai masih konsisten dengan sasaran inflasi tahun 2013 dan 2014, sebesar
sebesar 3,5 hingga 5,5 persen.
Agar angka inflasi pada akhir tahun tidak menembus sasaran
yang ditetapkan, Bank Indonesia akan meningkatkan pengawasannya pada
perkembangan harga-harga terutama pada harga pangan (volatile foods). Hal itu dikatakan BI dalam pernyataan resmi pasca
mengumumkan BI Rate bulan lalu. BI juga mengharapkan dukungan kebijakan
pemerintah seperti yang disepakati dalam bauran kebijakan moneter dan
makroprudensial, agar sasaran inflasi bisa tercapai.
BI dan pemerintah memiliki forum koordinasi yang memiliki concern menjaga perkembangan
haraga-harga melalui Tim Pengendalian Inflasi (TPI) dan Tim Pengendalian
Inflasi Daerah (TPID) guna mengamankan pasokan dan distribusi barang.
Menurut Deputi Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo,
pihaknya dan pengelola fiskal untuk menangani kenaikan harga bawang yang sampai
pekan terakhir bulan lalu harganya mulai melandai. BI akan juga bekerja sama
dengan kementerian terkait untuk menangani kenaikan harga bawang ini, agar
pengaruhnya pada inflasi bisa ditekan. “Sejauh ini, tekanan (dari kenaikan
bawang) masih ada. Tapi nanti tergantung komunikasi dengan pemerintah,
bagaimana cara mengatasinya, baik dari pedagang dan sebagainya,” kata Perry.
Pengaruh kenaikan bawang ke inflasi ini, kata Deputi yang
baru saja terpilih bulan lalu, akan sangat ditentukan oleh bagaimana kecepatan
pemerintah dalam menangani kasus ini. Sampai artikel ini ditulis, BI menurut
dia, masih menghitung berapa besar pengaruh kenaikan itu ke inflasi. “Inflasi
dari bawang merah dan bawang putih, memang dari Januari lalu yang merupakan
dampak dari penerapan hortikultura ini memang berpengaruh kepada inflasi. Tapi
kami akan melihat lagi pengaruhnya ke inflasi," kata Perry.
Meski begitu, BI tetap yakin bahwa inflasi yang bulan ini
didorong sektor pangan karena dampak gangguan cuaca dan terbatasnya pasokan
komoditas hortikultura yang berasal dari impor, tidak akan mengganggu target
inflasi tahun ini. Tekanan inflasi karena faktor pangan akan segera mereda
seiring dengan siklus panen yang akan terjadi bulan ini.
Keyakinan tersebut didukung pernyataan dari pemerintah yang
mengatakan bahwa sekarang ini masuk waktu panen. Namun demikian, pemerintah
tetap mewaspadai tekanan inflasi dari sektor lainnya. “Maret-April inflasi diperkirakan rendah,
karena ada panen raya. Nah, nanti
masuk ke siklus lain lagi, bukan volatile
food, tapi jadual sekolah,” kata Menteri Perencanaan Pembangunan
Nasional/Kepala Bappenas, Armida S Alisjahbana.
Setelah itu, siklus inflasi terus meningkat karena memasuki
bulan Ramadhan dan Lebaran yang seperti biasa akan mendongkrak harga-harga di
masyarakat. “Kalau puasa itu bulan Juli, Lebaran pada Agustus. Berarti Juli ada
tantangan lagi," ujar Armida.
Untuk itu, pemerintah kata dia, akan mulai mewaspadai
gejolak yang terjadi pada komponen-komponen pemicu inflasi sejak dini agar inflasi
tidak berlanjut, dan bisa segera tertangani. Pemerintah menargetkan angka
inflasi tahun 4,9 persen yang mana sudah sudah memperhitungkan tarif
listrik, dan dampak kenaikan upah
minimum provinsi (UMP).
Pelaksana tugas Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan
Bambang Brodjonegoro mengatakan, kenaikan upah dapat menjadi salah satu faktor
pemicu melesatnya inflasi pada 2013. "Kami malah lebih concern inflasi itu pengaruh dari upah
minimum provinsi," ujarnya.
Menurut Bambang, dengan kenaikan upah buruh sekitar 40
persen sampai 50 persen, maka diprediksi faktor upah dapat menyumbang inflasi
sekitar 0,2 persen-0,3 persen. “Itu kira-kira pengaruh inflasinya 0,2
persen-0,3 persen, tapi pertumbuhan ekonomi juga bisa bertambah karena daya
beli naik," kata Bambang.
BI Rate dan Rupiah
Sementara itu, penetapan BI Rate sebesar 5,75 persen juga
digunakan BI untuk mengabsorpsi tekanan yang selama ini menimpa nilai tukar
rupiah atas dollar AS. Pada Februari lalu, tekanan depresiasi terhadap rupiah
cenderung mereda sehingga mencapai rata-rata Rp.9.680 per dolar AS.
Menurut data BI, dibandingkan dengan posisi awal tahun, nilai
tukar menguat sebesar 0,31 persen. Kebijakan stabilisasi nilai tukar yang
ditempuh otoritas, termasuk penguatan mekanisme intervensi valuta asing dan
pembentukan referensi nilai tukar rupiah di pasar domestik, mampu meningkatkan
kepercayaan pasar. Selain itu, stabilitas nilai tukar juga didukung dengan
masuknya aliran dana nonresiden ke instrumen rupiah yang mencapai Rp27,6
triliun. “Ke depan, BI terus menjaga stabilitas nilai tukar sesuai dengan kondisi
fundamental perekonomian,” kata pernyataan BI.
Bulan lalu, BI memang tengah membangun skema pertahanan yang
lebih kuat bagi rupiah melalui kuotasi kurs. Istilah itu mengacu pada suatu
pernyataan kesediaan bank melakukan transaksi, jualbeli valas pada suatu kurs
yang diumumkan.
Bank-bank yang menjual valas itu diminta BI membuat kuotasi
kurs harian untuk setiap mata uang yang dilayaninya. Kemudian, BI akan melihat
apakah kuotasi itu ditetapkan sesuai pertimbangan yang tepat sebelum disetujui.
Terakhir, BI akan memantau perdagangannya di pasar valas. “Harga kurs
sebenarnya di tentukan spot. Kuotasi ini menjadi acuan. Skemanya sama persis
dengan Jakarta Interbank Offered Rate
(JIBOR),” kata Halim Alamsyah, Deputi Gubernur BI, Februari lalu.
Pada Januari, rupiah secara rata-rata melemah sebesar 0,22
persen dibanding bulan sebelumnya ke
level Rp9.654 per dollar AS, berdasarkan data BI, melanjutkan pelemahannya di
sepanjang tahun 2012, yang terdepresiasi sebesar 6,9 persen. Pada saat yang
sama, regulator menemukan ‘kambing hitam’ yang melemahkan rupiah yaitu
transaksi non delivery forward (NDF)
yang dilakukan di Singapura.
Meski begitu langkah BI, lewat penetapan suku bunga acuan
mesti didukung oleh otoritas fiskal dalam bentuk respons kebijakan. Pengamat
ekonomi dari Uiversitas Brawijaya, Ahmad Erani Yustika, mengatakan, pemerintah
harus mendukung kebijakan Bank Indonesia mempertahankan suku bunga patokan (BI
Rate) 5,75 persen. "Karena sampai akhir tahun diperkirakan masih ada
tekanan pada nilai tukar rupiah," kata dia.
Langkah yang bisa dilakukan pemerintah adalah, dengan
menjaga momentum investasi, mempertahankan konsumsi rumah tangga dan
meningkatkan penyerapan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Dengan begitu,
pertumbuhan ekonomi bisa mencapai target yang dipatok pemerintah sebelumnya di
kisaran 6,6 persen hingga 6,8 persen.
Inflasi vs
Pertumbuhan
Sementara itu, ekonom Standard Chartered, Erick Sugandi,
memperkirakan, ekonomi bisa tumbuh 6,5 persen hingga akhir tahun karena
terdongkrak konsumsi pemilihan umum. "Ada belanja tambahan dari kebutuhan
Pemilu pada kuartal 4 tahun 2013 dan kuartal 1 tahun 2014," ujarnya.
Menurut prediksi Standard Chartered yang dipublikasikan
pertengahan Maret, angkan inflasi kemungkinan akan lebih tinggi pada tahun ini karena
berbagai alasan. Di antaranya adalah kenaikan tarif dasar listrik 15 persen
tahun ini, kenaikan awal sebesar 4,3 persen sudah dilaksanakan pada Januari,
yang akan diikuti oleh kenaikan lebih lanjut pada bulan April, Juli, dan
Oktober.
Upah minimum juga sudah dinaikkan pada Januari berbarengan
dengan kenaikan signifikan pada beberapa harga pangan. Selanjutnya, tekanan
dari konsumsi rumah tangga yang akan meningkat selama Ramadhan yangberlangsung
pada kuartal ketiga dan pengeluaran terkait pemilihan umum pada kuartal keempat
akan mendorong inflasi lebih tinggi.
“Dengan asumsi pemerintah tidak menaikkan harga bensin bersubsidi,
kita inflasi proyek sebesar 5,5 persen year
on year pada akhir 2013, pada batas atas dari kisaran target BI 3,5 persen
-5,5 persen, dan naik dari 4,3 persen pada akhir 2012,” kata Eric pada
publikasi itu. “Artinya inflasi rata-rata sebesar 5,2 persen pada 2013, naik dari 4,3 persen pada 2012.”
Meskipun inflasi lebih cepat, Standard Charterd memproyeksi
bahwa pertumbuhan PDB riil akan meningkat dari 6,2 persen pada 2012 menjadi 6,5
persen pada 2013 dan 6,8 persen pada tahun 2014. Hal itu didorong oleh konsumsi
rumah tangga (sekitar 55 persen dari PDB) dan investasi. “Kenaikan inflasi kemungkinan
akan memiliki dampak minimal terhadap daya beli rumah tangga, di saat
pendapatan rumah tangga juga meningkat, dibantu oleh kenaikan upah minimum dan
kenaikan gaji tahunan bagi pegawai negeri sipil,” kata Eric.
Bank Indonesia tentu tak kalah optimisnya dengan Eric.
Selain yakin bahwa inflasi akan terkendali, bank sentral juga memperkirakan
perekonomian bisa bertumbuh 6,2 persen pada kuartal pertama tahun ini. “Dengan
didukung oleh konsumsi domestik,” kata juru bicara Bank Indonesia, Difi Ahmad
Johansyah, dalam siaran pers.
Menurut BI, konsumsi tumbuh cukup kuat sejalan dengan
keyakinan konsumen dan daya beli masyarakat yang membaik. Sementara itu,
berbagai indikator menunjukkan moderasi pertumbuhan investasi khususnya pada
investasi nonbangunan di tengah investasi sektor bangunan yang masih cukup
kuat.
Indikasi moderasi tersebut juga terlihat pada melandainya
pertumbuhan impor, khususnya impor barang modal. Di sisi lain, kinerja ekspor
ke berbagai negara mitra dagang utama, khususnya China, America Serikat (AS)
dan India, diprakirakan membaik. Untuk keseluruhan tahun 2013, setelah
memperhitungkan aktivitas ekonomi pada triwulan-triwulan selanjutnya, termasuk
pengeluaran untuk persiapan Pemilu 2014, pertumbuhan ekonomi diprakirakan akan
cenderung mengarah ke batas bawah kisaran 6,3 persen-6,8 persen.
Memang banyak yang terjadi sepanjang bulan lalu, dan bakal
lebih banyak yang terjadi pada bulan-bulan setelahnya. Meski mendorong inflasi,
namun semua itu juga menjadi penolong bagi pertumbuhan ekonomi.
Figure 1: Perkiraan Makroekonomi Indonesia
2012 2013F 2014F
GDP (riil % y/y) 6.2
6.5 6.8
CPI (% rerata th) 4.3 5.2 5.1
Policy rate (%)* 5.75
5.75 6.25
USD-IDR* 9.793 9.500 8.900
Transaksi Berjalan (% GDP) -2.8
-1.5 -0.6
Neraca Fiskal (% GDP) -1.8 -1.6 -1.7
* akhir periode;
Sumber: Bank Indonesia, Kementerian Keuangan, Standard
Chartered Research
Asuransi di Tengah Beragam Tantangan
Industri asuransi masih menghadapi tantangan yang cukup
berat tahun ini, meski diyakin tetap akan mencatatkan pertumbuhan. Potensi
pasar yang besar akan berhadapan dengan ketatnya aturan dan bertambahnya
pesaing.
Ketiga, adalah
risiko-risiko yang menempel pada perusahaan asuransi saat ini. seperti halnya
bank asuransi juga menghadapi beberapa risiko utama seperti risiko kredit,
risiko pasar, risiko stratejik, risiko regulasi dan risiko operasional. “Di
samping itu juga ada risiko inheren yang khas yang disebut risiko aktuarial,
yaitu kerugian yang terjadi ketika polis asuransi yang diterbitkan
mengakibatkan klaim yang lebih besar dari yang diperkirakan,” ujar Gayatri
Rawit Angreni, pakar manajemen risiko.
Dalam setiap diskusi mengenai potensi ekonomi di dunia,
Indonesia selalu menjadi topik pembahasan. Tak terkecuali potensi asuransi.
Dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia dan masih banyak yang belum
memiliki asuransi, Indonesia jelas menjadi pasar menggiurkan.
Bahkan di saat industri asuransi negara-negara Barat terluka
akibat krisis global dalam lima tahun terakhir, bisnis di Indonesia tetap
melaju kencang. Dalam 10 tahun terakhir pertumbuhannya selalu mencapai dua
digit. Malahan pertumbuhan premi asuransi jiwa rata-rata (CAGR–compounded average growth rate) selama
lima tahun pada periode tahun 2006–2010—angkanya mencapai 30 persen.
Meski begitu, masyarakat Indonesia tetap termasuk dalam
kategori un-insured. Menurut
penelitian dari periset yang dikutip dari majalah The Economist, penetrasi asuransi Indonesia masih sangat minim
yaitu sebesar 0,9 persen dari produk domestik bruto (PDB). Angka itu paling
kecil dibanding dengan negara jiran seperti Malaysia (3,3 persen), Thailand
(2,9 persen), Singapura (5,7 persen).
Tahun ini, pelaku industri pun masih tetap optimistis bahwa
bisnis akan tetap tumbuh dua digit, meski dibayangi beberapa tantangan. Lembaga
pemeringkatan global Fitch Ratings pun berani menilai bahwa prospek asuransi
baik sektor jiwa maupun kerugian di Indonesia pada 2013 akan stabil dengan
pertumbuhan pendapatan premi yang berkelanjutan.
Fitch, seperti dikutip Asia Insurance Review, mengatakan
prospek stabil untuk industri asuransi tahun ini didorong oleh meningkatnya
pendapatan nasional dan bertambahnya jumlah orang kaya di Indonesia. Hal itu
akan berhadapan dengan penetrasi pasar dalam negeri yang sangat kurang, dan
meningkatnya kesadaran risiko katastropik.
Apa yang dikatakan lembaga rating global itu tidaklah
berlebihan. Pasalnya pada saat krisis global 2008 yang paling menghantam
industri asuransi saja, Indonesia masih mengalami pertumbuhan dua digit. Meski
setelah itu sempat melemah, namun pertumbuhannya tetap bertahan di level dua
digit.
Menurut Hendrisman Rahim, Ketua Umum Asosiasi Asuransi Jiwa
Indonesia (AAJI), fakta tersebut memang meningkatkan optimisme di kalangan
pelaku industri. Untuk mempertahankan kecepatan pertumbuhan tersebut asosiasi
akan meningkatkan sosialisasi asuransi kepada masyarakat. “Pendorong
pertumbuhan yang tinggi itu adalah membaiknya kondisi ekonomi dan naiknya daya
beli masyarakat. Termasuk semakin meleknya masyarakat akan pentingnya
asuransi,” kata dia.
Tahun ini bisnis asuransi jiwa diprediksi akan mencatatkan
pertumbuhan premi sebesar 25-30 persen.
Sementara itu, asuransi kerugian juga tidak kalah
optimistis. Julian Noor, Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Umum Indonesia
(AAUI), mengatakan bahwa pertumbuhan premi asuransi umum akan berada di angka
22-23 persen. Stabilnya perekonomian
nasional, sehingga mengerek porsi belanja negara akan mendorong kinerja bisnis
asuransi.
Tahun ini, anggaran belanja negara direncanakan sebesar Rp
1.657,9 triliun, naik 7,1 persen dibandingkan 2012. Hal itu berarti proyek yang
membutuhkan jaminan risiko akan bertambah.
Selain anggaran negara, pelaku asuransi umum juga membidik
peningkatan anggaran daerah (APBD). Menurut Julian, kesadaran pemerintah daerah
(pemda) mengasuransikan aset-aset mereka terus meningkat. Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta
menjadi pelopor, yakni melelang penjaminan aset tahun depan, pemda lain
diperkirakan akan mengikuti.
Dorongan pertumbuhan asuransi umum juga berasal dari
langkah Otoritas Jasa Keuangan (OJK),
yang membuat tarif referensi asuransi properti dan kebakaran. "Tarif
referensi akan membuat lini asuransi properti dan kebakaran kembali
berkontribusi maksimal dengan persaingan sehat," kata Julian.
Di sisi lain, perusahaan asuransi juga sudah bisa
menyesuaikan diri dengan aturan uang muka pada pembelian kendaraan secara
kredit yang diberlakukan tahun lalu.
Bagaimana dengan asuransi syariah? Meskipun pangsanya baru 4
persen dari total industri asuransi, pertumbuhan asuransi syariah cukup pesat.
Jenis asuransi yang mulai dikenal sejak bank syariah naik pamor pada awal
2000-an itu meningkat hingga 10 kali lipatnya dengan peningkatan premi
rata-rata di atas 30 persen pada periode 2006-2012.
Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI) berani
memperkirakan pertumbuhan industri asuransi syariah pada 2013 mencapai 30-40
persen. Dan tahun depan diperkirakan akan menjadi puncak pertumbuhan asuransi
syariah di Indonesia.
Pertumbuhan ini didorong oleh bertambahnya satu perusahaan
asuransi syariah akibat dua aturan baru di industri. Kedua aturan tersebut
adalah modal minimal perusahaan dan spin
off unit usaha syariah perusahaan asuransi.
Tahun ini, beberapa perusahaan sedang gencar-gencarnya
melakukan persiapan spin off. Salah
satunya adalah unit usaha syariah Asuransi Manulife. Manulife berencana akan
melakukan spin off pada 2014 dengan persiapan sepanjang 2013.
Berbeda dengan Manulife, Adira Insurance baru akan melakukan
spin off bila perusahaan sudah
membukukan premi Rp 250 miliar. Hal ini bertujuan agar perusahaan bisa
membiayai operasionalnya sendiri.
Tantangan Industri
Akan tetapi, bukan berarti industri asuransi akan melenggang
mulus mencapai target yang diinginkan pelaku. Setidaknya ada beberapa hal yang
berpotensi mengganjal skenario optimistis industri.
Pertama adalah
aturan modal minimum yang harus dipenuhi perusahaan sebesar Rp70 miliar pada
2012 dan menjadi Rp100 miliar pada 2014. Regulasi tak pelak akan mengerem
ekspansi perusahaan dan mendorong konsolidasi pasar lebih ketat.
Menurut lembaga Fitch, dampak dari kebijakan itu, jumlah
pemain industri diprediksi akan menyusut karena asuransi yang lebih kecil dan
lebih lemah akan bergabung dengan perusahaan lain untuk memenuhi persyaratan
modal baru atau dipaksa untuk keluar dari pasar. Meski demikian dalam jangka
panjang, aturan itu akan membantu perusahaan mengembangkan kesadaran risiko
yang lebih besar dan meningkatkan kemampuan mereka untuk mengelola sumber
permodalan.
Ketentuan itu juga ibarat panggilan kepada investor asing
untuk memasuki pasar Indonesia. Selain karena daya tarik itu, ada juga faktor
pendorong yang berasal dari lesunya pertumbuhan pasar asuransi di negara macam
Amerika Serikat, Jepang dan Korea Selatan. Apalagi dengan batas kepemilikan
asing yang mencapai di atas 90 persen, jauh lebih tinggi daripada di
negara-negara Asia lainnya, tentu investor akan memilih Indonesia.
Kedua, tantangan
yang mungkin menghambat pertumbuhan asuransi adalah penerapan standar akutansi
internasional atau International Financial Result Standard (IFRS) untuk laporan
keuangan tahun 2012.
Simulasi Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan
(Bapepam-LK), menunjukkan penerapan aturan ini akan mengakibatkan liabilitas
atau kewajiban perusahaan meningkat sehingga memperlemah ekuitas atau struktur
permodalan. Hal itu tentu saja bakal membuat industri asuransi harus menambah
modal lagi.
Kamis, 07 Maret 2013
Meniti Langkah Keluar dari Kotak
Bank perlu memiliki lingkungan
kerja yang mendukung berkembangnya budaya inovasi. Kondisi tersebut akan
menciptakan sebuah bank yang selalu berpikir out of the box demi memenangkan persaingan bisnis.
Tiada yang tak berubah di dunia itu, kecuali perubahan itu sendiri. Penggalan kalimat yang dipercaya dikutip dari Heraclitus, seorang filsuf Yunani yang hidup antara 540-480 SM, sering digunakan untuk memberikan penekanan pada pentingnya perubahan. Dalam kehidupan di muka bumi ini perubahan memang merupakan faktor yang berada di luar kendali manusia. Dalam bisnis pun demikian. Perusahaan yang tidak bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan akan tergilas dengan perubahan.
Oleh karena itu, lembaga bernama bank yang kita lihat
sekarang sudah jauh berbeda dengan ketika pertama kali muncul pada abad ke-17.
Dahulu, bank hanya memiliki fungsi sebagai tempat masyarakat menyimpan uang,
kini tidak ada bank hanya menjalankan fungsi itu. Industri perbankan
disebut-sebut sebagai salah satu institusi yang selalu bisa menyesuaikan diri
dengan perubahan dalam lingkungan bisnis dan tren.
Lebih dari itu bank juga dituntut untuk bisa memprediksi
masa depan karena mengetahu apa yang bakal terjadi di masa yang akan datang
tentu sangat berguna bagi bank. Itulah yang diungkapkan dalam sebuah tulisan
Axel Liebetrau, seorang konsultan yang terafiliasi dengan Zukunftsinstitut,
sebuah lembaga pemberdayaan konsumen di Jerman.
Menurut Axel, masa depan jelas tidak bisa diketahui, namun
bank dapat membuat asumsi. Dan lembaga keuangan itu dapat mendapatkannya
melalui penelitian dari sebuah tren dan bagaimana hal itu berimplikasi bagi
bank.
Pengelola bank tentu tidak bisa mematikan sebelumnya, bahwa
pemberian kredit akan menjadi fungsi lain yang tidak bisa dipisahkan dari
fungsi menyimpan dana. Namun karena melihat kecenderungan di masyarakat yang
juga menginginkan pinjaman dana untuk berbagai kebutuhannya maka bank pun
menyediakannya.
Kebiasaan memprediksi apa yang dibutuhkan nasabah dari
kebiasaan nasabah terus berlanjut hingga sekarang di saat bank berupaya untuk
memenuhi kebutuhan finansial nasabahnya dari A sampai Z sehingga muncullah
istilah one stop financial services.
Bank tak lagi hanya lembaga intermediasi (perantara antara pemiliki dana dan
peminjam), namun juga menyediakan produk asuransi, sekuritas, bahkan bisa
menjadi konsultan keuangan bagi nasabahnya. Fenomena priority banking bisa menjelaskan hal itu.
Kini bank dinilai memiliki alat dan metodologi untuk
mendukung prediksi bisnis di masa depan. Meski demikian menurut Axel, hal itu
tidak mudah diterapkan karena itu tugas jangka menengah dan panjang manajemen
yang mempengaruhi beberapa aspek utama dari bank. “(Namun begitu) sebuah budaya
inovasi dan terbukanya pendekatan lateral untuk berpikir adalah hal penting
untuk menerapkannya,” kata Axel.
Apa yang diungkapkan Axel tak pelak merupakan prasyarat
mutlak untuk bertahan dalam bisnis perbankan. Artinya jika ingin memenangkan
persaingan maka bank harus memastikan bahwa
mereka memiliki budaya inovasi yang kental dan kebiasaan berpikir out of the box yang tentunya tercermin
dari pegawai-pegawainya. Berpikir keluar dari kotak adalah cara berpikir
yang berani menerobos liar, keluar dari apa yang umumnya dipikirkan kebanyakan
orang. Namun output yang
dihasilkannya harus memiliki keunikan, one
of a kind.
Kita tentu masih ingat sekitar 10 tahun lalu saat Bank
Danamon mulai membidik segmen mikro dengan meluncurkan layanan Danamon Simpan
Pinjam (DSP). Saat itu tidak banyak bank besar yang berani memberikan kredit
kepada pedagang pasar a la tukang
kredit. Tukang kredit adalah kreditur perseorangan yang meminjamkan dana kepada
masyarakat kecil dengan cara menyediakan berbagai kebutuhan sehari-hari mereka.
Cara penagihannya adalah dengan mendatangi peminjam satu demi satu setiap hari
untuk mengumpulkan cicilan yang kadang hanya beberapa ribu rupiah saja.
Bank Danamon berani terjun ke segmen itu, yang biasanya
digarap oleh bank perkreditan rakyat. Namun bank yang sahamnya dikuasai
investor Singapura itu menyiapkan sistem yang lebih canggih yaitu dengan
menggunakan sebuah mesin semacam EDC (electronic
data capture). Mesin yang biasanya digunakan untuk memproses transaksi
kartu kredit itu dimodifikasi untuk mencatat cicilan harian dari nasabah.
Walhasil, dengan terobosan itu Bank Danamon berhasil men-generate bisnis usaha mikro bahkan mulai
bisa mengganggu kemapanan BRI yang selama ini terkenal memimpin pasar kredit
mikro.
Ada juga inovasi yang dilakukan BII sewaktu meluncurkan
produk tabungan khusus perempuan. Tabungan pertama di Indonesia yang
diperuntukkan khusus bagi perempuan ini memang cukup ‘berbeda’ dengan produk
tabungan lainnya karena hanya perempuan baik wanita muda, profesional, maupun
ibu rumah tangga yang boleh menikmatinya.
Atau produk KPR Smart Saving dari CIMB Niaga. Bank yang
mayoritas sahamnya dikuasai investor Malaysia menawarkan produk yangg mengkombinasikan
produk KPR dan tabungan. Lewat produk ini nantinya nasabah dapat menggunakan
bunga tabungannya untuk mengurangi bunga pinjaman KPR-nya hingga nol persen.
Yang paling mutakhir adalah terobosan yang dilakukan
Citibank. Bank asal AS itu sebelumnya dilarang Bank Indonesia menerbitkan kartu
kredit selama dua tahun ke depan, sebagai sanksi dari kematian nasabahnya
setelah bertemu debt collector. Namun
Citibank bisa “keluar dari kotak” dan secara cerdas berinovasi dengan
mengeluarkan Citibank Ready Credit (CRC) pada April lalu.
Produk CRC tergolong unik karena merupakan perpaduan kartu
kredit dan kredit tanpa angunan (KTA). Mirip kartu kredit karena penghitungan
bunga, pembayaran minimal dari total tagihan (minimum payment), pengiriman rincian transaksi (billing statement) ke nasabah setiap
bulan, hingga adanya batasan plafon pinjaman adalah sistem yang dipakai dalam
kartu kredit.
Namun berbeda dengan kartu kredit, CRC tidak bisa langsung
digunakan untuk bertransaksi. Nasabah yang ingin menggunakan CRC harus
melakukan tarik tunai ke ATM.
Proses Perubahan
Akan tetapi, apa yang dilakukan bank-bank tersebut tentu
tidak disiapkan dalam satu dua hari. Perlu proses yang panjang dan penelitain
mendalam sebelum menemukan ide kreatif itu dan meluncurkannya. Semua harus
bermula pada kesadaran individu di internal bank bahwa mereka harus terus
berubah, karena tidak akan ada pemikiran out
of the box jika tak ada dukungan terhadap perubahan.
Profesor John P Kotter, Guru Besar Leadership dari Harvard
Business School, dalam bukunya, Leading Change (1996) dan The Heart of Change
(2002), menganjurkan delapan tahap dalam melakukan sebelum bank bisa melakukan
terobosan dan perubahan.
Pertama,
Establishing A Sense Of Urgency (menetapkan keadaan darurat) ketika berbagai
indikasi menunjukkan gejala menurun. Kedua,
Creating the Guiding Coalition (membentuk koalisi atau tim yang akan memimpin
perubahan).
Ketiga, Developing
a Vision and Strategy (membangun visi dan strategi). Keempat, Communicating the Change Vision (mengomunikasikan
perubahan visi). Kelima, Empowering
Employees for Broad-Based Action (memperlengkapi karyawan dengan tindakan yang
beruang lingkup luas).
Keenam, Generating
Short-Term Wins (melahirkan kemenangan, keberhasilan jangka pendek). Ketujuh, Consolidating Gains and
Producing More Change (mengonsolidasikan keberhasilan-keberhasilan dan
melahirkan perubahan-perubahan berikutnya). Kedelapan,
Anchoring New Approaches in the Culture (memasukkan pendekatan-pendekatan baru
hasil perubahan ke dalam budaya perusahaan).
Jadi, bank manapun yang ingin
selalu memenangkan persaingan tentu sudah tahu apa yang harus dilakukan.
Tinggal bagaimana mereka menerapkannya.
(ditulis April 2012)
Old Bankers Never Dies
Selain memberi kesempatan
kepada yang berusia muda, industri perbankan juga memberi tempat tersendiri
kepada bankir-bankir tua. Meski jumlahnya sedikit namun perannya seringkali tak
tergantikan.
Dalam industri perbankan modern
seperti saat ini, usia memang bukan penghalang seseorang meraih jabatan
tertinggi. Namun dalam bisnis yang penuh persaingan dan penuh aturan,
kematangan diri dan pengalaman tentu akan menjadi pembeda antara satu bankir
dengan yang lain. Kematangan diri dan pengalaman tentu tidak bisa dipisahkan durasi
jam terbang dan karena itu juga dari faktor usia.
Beberapa tahun terakhir
ini, jika kita perhatikan, memang telah banyak bermunculan bankir-bankir
berusia muda (berusia sekitar 40 tahun) yang sudah menjabat sebagai direktur di
bank-bank besar. Jumlahnya bahkan sudah mendominasi bank-bank besar. Fenomena
itu berbeda sekali jika dibandingkan pada beberapa dasawarsa yang lalu saat
industri perbankan memulai masa-masa perkembangannya.
Pada era 80an hingga
90an, direktur sebuah bank selalu didominasi oleh seseorang yang berusia di
atas 50 tahun bahkan di atas 55 tahun. Kini dari sekitar 100 direktur di
sepuluh bank-bank besar, hanya 18 orang yang berusia di atas 56 tahun.
Oleh karena itu, tidaklah
mudah menemukan bankir-bankir dengan usia di atas 55 tahun dan masih aktif di
bank saat ini. Bankir dengan usia tersebut kemungkinan lebih memilih pensiun
atau bisa jadi diganti dengan bankir yang lebih muda. Di Indonesia, usia
pensiun untuk pegawai negeri memang ditetapkan 55 tahun. Meskipun tidak
menggunakan aturan itu, namun biasanya banyak juga yang mengikuti pakem
tersebut.
Dalam sebuah riset yang
dilakukan Alexandra Michel, asisten profesor manajemen
di University of Southern California School of Business, tahun lalu muncul jawaban mengapa tak banyak
bankir berusia tua.
Selama risetnya, Michel mengamati para bankir Wall Street di kantor mereka dengan cara duduk
di samping mereka, mengikuti pertemuan, mencatat jam kerja mereka. Bahkan dia ikut lembur selama lebih dari 100 jam seminggu pada tahun pertama, sekitar 80 jam seminggu
pada tahun kedua dan kemudian ditindaklanjuti dengan wawancara.
Selama dua tahun pertama, para bankir
bekerja rata-rata 80-120 jam seminggu dengan bersemangat dan energik. Biasanya
tiba pada pukul 6 pagi dan meninggalkan kantor sekitar tengah malam.
"Pada tahun keempat, banyak bankir
yang berantakan. Ada yang kurang tidur dan menyalahkan tubuhnya karena tidak
mampu menyelesaikan pekerjaan. Sementara lainnya mengalami alergi dan kecanduan
narkoba. Sisanya didiagnosis dengan penyakit jangka panjang seperti, psoriasis
arthritis, penyakit Crohn, radang sendi dan gangguan hormon," kata Michel dalam Wall Street Journal seperti
dilansir yahoonews.
Pada tahun keenam, para peserta penelitian
yang memasuki usia pertengahan 30 tahunan telah terpecah menjadi dua kubu.
Sebanyak 60 persen peserta tetap bekerja keras dan memprioritaskan pekerjaan.
Sedangkan 40 persen sisanya memutuskan untuk memprioritaskan kesehatan, memperhatikan
tidur, olahraga dan pola makan. Sekitar seperlima dari para bankir kemudian
meninggalkan profesinya.
"Bankir memiliki risiko tinggi
mengalami kejenuhan dan gangguan kesehatan mental karena tekanan
pekerjaannya," kata Alden Cass, psikolog klinis yang berpraktik di New
York.
Krisis ekonomi baru-baru ini telah menyebabkan kenaikan
tingkat stres pada karyawan bank-bank
di Wall Street.
Sebagian besar karyawan yang memutuskan berkonsultasi ke
psikolog, mencari bantuan karena hubungan pribadinya
dipengaruhi oleh pekerjaan. Beberapa dari mereka kemudian kecanduan obat seperti
Adderall atau Ritalin untuk mengatasi depresi. "Itulah
alasan mengapa tidak banyak ditemukan bankir investasi yang berusia tua. Ini
kehidupan yang sulit," kata Mr DeGarmo, mantan direktur Salomon Brothers,
salah satu bank ternama yang berinvestasi di Wall Street.
Pentingnya Pengalaman
Meski tidak
seratus persen sesuai dengan kondisi di Indonesia, setidaknya riset itu bisa
memberi gambaran betapa perbankan adalah industri yang riskan untuk orang-orang
berusia lanjut. Akan tetapi di sisi lain, karena perbankan adalah industri yang
penuh risiko –karena itu highly regulated,
bankir-bankir senior tetap memiliki peran sentral. “Mereka yang tua memberi semangat, bimbingan,
payung, kalau bank kecepatan diberitahu. Itu pentingnya kehadiran orang tua,”
kata Rostian Syamsudin, bankir berusia lebih dari 70 tahun.
Rostian adalah satu dari
sedikit bankir yang masih menduduki jabatan penting di sebuah bank. Saat ini
hanya kurang dari dua orang bankir dengan usia tergolong senior yang menduduki
posisi direktur di sepuluh bank besar di Indonesia. Rostian yang menjadi
Presiden Direktur di Panin Bank selama 18 tahun adalah salah satunya.
Kehadiran bankir-bankir dedengkot dinilai sangat dibutuhkan
untuk menghindari bank terlalu agresif dan berkecenderungan menabrak
rambu-rambu regulasi. Walaupun tidak selalu benar, namun anggapan umum
menyatakan bahwa orang muda lebih agresif ketimbang mereka yang berusia lebih
tua.
Namun yang pasti adalah
makin tua seorang bankir kemungkinan besar lebih banyak pengalamannya ketimbang
bankir yang lebih tua. “Bankir yang sudah berpengalaman selama 30 tahun tentu
berbeda dengan bankir yang pengalamannya baru 10 atau 20 tahun,” kata Krisna
Wijaya, Komisaris Bank Mandiri.
Keunggulan bankir yang
berpengalaman adalah mereka sudah memiliki kepercayaan dari publik, sedangkan
yang belum, harus membuktikan bahwa dia layak dipercaya dan mampu. Bahkan dalam
beberapa kasus tertentu, Krisna mengatakan, diperlukan bankir-bankir senior untuk
‘turun tangan’ lagi. “Karena banyak persoalan yang harus diselesaikan, situasi
itu membutuhkan bankir yang bertangan dingin, membutuhkan bankir berpengalaman
dan jam terbang yang tinggi.”
Kendati begitu, jam terbang
dan pengalaman kadang juga memiliki mata pisau lain yang mematikan. Lihat saja apa yang dilakukan oleh Bernard Madoff, seorang investment banker yang telah berusia 71
tahun. Pria yang pernah mengepalai bursa Nasdaq ini menipu nasabah hingga Rp450
triliun. Madoff yang tertangkap akhir 2008, didakwa melakukan penipuan
sekuritas, investasi, surat, dan hubungan telepon dan pencucian uang nasional
dan internasional.***
=================================================================
BANKIR SENIOR DI
PERBANKAN INDONESIA
1. Abdul Rachman, Direktur Perbankan Institusi Bank Mandiri
Abdul Rachman lahir pada
tahun 1954. Lulus dengan gelar BSc di bidang Akuntansi dari Universitas
Padjadjaran, Bandung pada 1980 dan MBA di bidang Manajemen Keuangan dari Kansas
State University, USA 1989.
Abdul Rachman mengawali
karir di perbankan saat dia bergabung dengan Bapindo pada tahun 1981. Jabatan
terakhirnya di Bapindo adalah sebagai Kepala Divisi Perbankan Internasional.
Di Bank Mandiri, dia
menjadi Wakil Presiden Senior, Corporate Banking. Sempat menjabat sebagai
Komisaris Bank Syariah Mandiri dan Komisaris Mandiri Sekuritas, pada 2005 dia
diangkat sebagai Managing Direktur Perbankan Korporasi Bank Mandiri sampai
Maret 2008.
2. Sarwono Sudarto, Direktur Operasional BRI
Dia memperoleh gelar
sarjana di bidang Administrasi Niaga dari Universitas Diponegoro 1975 dan MBA
Finance-nya dari Tulane University, Amerika Serikat pada tahun 1987. Kemudian
gelar Doktor dari Jurusan Manajemen Pendidikan Universitas Negeri Jakarta di
2011. Lelaki kelahiran 1952 ini mulai bergabung dengan BRI sejak tahun 1976. Tiga
puluh tahun kemudian, dia masuk dalam jajaran direksi BRI dan dipercaya sebagai
Direkur Operasional. Dia mengatakan dalam 4 tahun terakhir perseroan menambah
sekitar 2.000 kantor jaringan baik di pedesaan dan perkotaan. Total kantor yang
dimiliki BRI saat ini mencapai 7.738 kantor jaringan yang dihubungkan secara
online.
3. Asmawi Syam, Direktur Bisnis Kelembagaan BRI
Menjabat sebagai Direktur
Bisnis Kelembagaan BRI sejak September 2007.
Memulai karir perbankan di BRI sejak 1980 dan telah menduduki berbagai
jabatan manajerial diantaranya adalah kepala Divisi Bisnis Umum, Kepala Divisi
Consumer Banking, Pemimpin Wilayah bandung dan Pemimpin Wilayah Denpasar.
Pria kelahiran 1955 ini, bergelar
Sarjana Ekonomi dari Universitas Hasanuddin Makassar tahun 1979 dan Magister
Manajemen dari Universitas Padjajaran Bandung 2003. Telah mengikuti berbagai
pendidikan dan pelatihan bidang perbankan sebelum menjadi direktur BRI
4. Gatot Mudiantoro Suwondo, Direktur Utama BNI
Gatot lahir pada 1954.
Memperoleh gelar Sarjana Akuntansi dari Universitas Mindanao State University,
Marawi City, Philippines (1979) dan Master of Business Administration dari
International University, Manila, Philippines (1982).
Sebelum di BNI, Gatot
menjadi Direktur Bank Danamon (2001-2005) dan beberapa tahun sebelumnya di Bank
Duta. Dia adalah adik ipar Susilo Bambang Yudhoyono, setelah menikahi adik dari
Ani Yudhoyono. Dari awal pengangkatan Gatot menjadi Dirut BNI pada 2008, sempat menggegerkan, mengingat
kinerja Gatot waktu dinilai para analis dan media yang di bawah rata-rata
direktur bank. Namun masalah ini nampaknya bisa diatasinya. Penghargaan sebagai
CEO terbaik di Indonesia menjadi buktinya.
5. Sutanto, Direktur BNI
Sutanto lahir pada 1954.
Menjabat Direktur BNI sejak 12 Mei 2010. Memperoleh gelar S2 General,
University of Drake. Jabatan sebelumnya
adalah Pemimpin Divisi Kebijakan dan Manajemen Risiko (2009), Pemimpin Divisi
Pendidikan dan Pelatihan Tbk (2008-2009), Wakil Pemimpin Divisi SDM
(2005-2008).
6. Yap Tjay soen, Direktur Keuangan BNI
Yap Tjay Soen lahir pada
tahun 1955. Menjabat Direktur sejak 6 Februari 2008. Memperoleh gelar MBA
Finance Mc Gill University, dan Bachelor of Engineering Mc Gill University. Kariernya
lebih banyak dihabiskan sebagai komisaris independen seperti di Bank Mandiri,
BNI dan PT Aneka Tambang.
Pada 1988, Yap sempat
menjabat sebagai Vice President di Citibank dan CEO Divisi Auto 2000 Group PT
Astra International.
7. Jahja Setiaatmadja, Direktur Utama BCA
Jahja Setiaatmadja (57)
yang awalnya bercita-cita sebagai dokter gigi. Anak dari kepala kasir yang
bekerja selama 35 tahun di Bank Indonesia ini kuliah di Fakultas Ekonomi
Universitas Indonesia.
Setelah malang melintang
di beberapa industri, tahun 1990 dia ditawari bekerja di BCA. Posisi awalnya di
BCA sebagai Wakil Kepala Divisi di tahun 1990. Tahun 1999 Jahja diangkat oleh
BPPN menjadi Direktur BCA hingga tahun 2005 ia diangkat menjadi Wakil Presiden
Direktur BCA.
8. Ho Hon Cheong (Henry Ho), Direktur Utama Bank Danamon
Henry Ho merupakan warga
negara Malaysia kelahiran tahun 1954. Ia lulus dari University of Malaya -
Kuala Lumpur pada tahun 1978, dalam bidang Engineering – Mechanical.
Mendapatkan gelar B.Eng (Honours), lalu pada tahun 1980 mendapatkan gelar
Master in Business Administration di bidang Accounting & Finance dari
McGilll University, Montreal, Quebec, Canada.
Ho meniti kariernya di
Citibank hingga tahun 2002 dia memutuskan bekerja untuk Saudi American Bank
Riyadh, Arab Saudi sebagai General Manager and Group Head. Pada 2004 dia bergabung
dengan BII. Dia juga pernah bekerja untuk Temasek Holdings (Private) Ltd
sebagai Managing Director sejak tahun 2009.
9. Rostian Sjamsudin, Direktur Utama Bank Panin
Berusia genap 71 tahun, Rostian
Sjamsudin merupakan bankir paling senior yang menjabat posisi Direktur Utama.
Pria asal Sawah Lunto, Sumatra Barat ini bahkan sudah menduduki posisi penting di
Panin Bank sejak 18 tahun silam.
Rostian mengeyam
pendidikan sarjana di Universitas Padjadjaran, Bandung dan lulus pada tahun
1965. Mulai bergabung di Panin Bank pada tahun 1978 dengan jabatan sebagai
Assistant Director, kemudian menjabat sebagai Executive Vice President
(1981-1986), Senior Executive Vice President (1986-1994), dan diangkat sebagai
Presiden Direktur sejak tahun 1994.
10. Roosniati Salihin, Wakil Direktur
Utama Panin Bank
Roosniati lahir tahun 1948.
Perempuan ini sempat kuliah sastra Inggris di UCLA, Amerika pada 1965-1968) dan
di Sophia University, Tokyo (1968-1970). Dia juga pernah mengikuti pendidikan
di Tokyo Business School jurusan Manajemen (1970-1971).
Pada tahun 1971, dia bergabung
dengan Panin Bank dan menjadi Direktur 20 tahun kemudian. Menjabat sebagai
Komisaris di berbagai afiliasi Perseroan: Westpac Panin Bank (1991-1993)., ANZ
Panin Bank (1993-2000), DKB Panin Finance Ltd. (1991-2000).
11. Ahmad Hidayat, Direktur Keuangan
Panin Bank
Ahmad Hidayat lahir pada
tahun 1939. Pendidikan Akademi Akuntansi, Bandung pada tahun 1961 dan
Universitas Padjadjaran jurusan Ekonomi tahun 1963. Dia memulai karir pada Bank
of America sepanjang 1968-1988.
Bergabung dengan Panin
Bank sebagai Kepala Pembukuan (1986-1988). Kemudian dia pindah ke Bank Danamon
sebagai Head of Accounting Department (1988-1989). Kembali lagi ke Panin Bank pada
tahun 1989 dan menjabat sebagai Staff Direksi (1989-1991). Dia menjabat sebagai Direktur Perseroan sejak
tahun 1994.
12. Iswanto Tjitradi, Direktur Perbankan
Korporasi
Iswanto Tjitradi
merupakan kelahiran tahun 1948. Menjabat sebagai Direktur Perbankan Korporasi
PaninBank sejak tahun 2009, sebelumnya menjabat sebagai Direktur Kepatuhan dan
Manajemen Risiko sejak tahun 1996. Lulus dari San Fransisco State University
tahun 1980.
Pernah berkarir di luar
PaninBank sejak tahun 1980 hingga 1996, yakni menjadi Senior Vice President di
LippoBank, Assistant Vice President di Citibank dan lainnya.
13. Wee Ee Cheong, Deputy Chairman dan
CEO UOB Indonesia
Dia merupakan warga
Singapura kelahiran 1954. Meraih gelar MA dan BS dari The American University.
Sudah bergabung dengan UOB grup sejak 1979. Saat ini ia merangkap sebagai Deputy Chairman dan CEO. Selain sebagai
bankir, ia juga adalah anggota dari asosiasi perbankan Singapura. Dia juga
pernah bekerja sebagai sebagai wakil ketua Dewan Perumahan dan Pembangunan singapura
dan pernah juga menjadi direktur Port of Singapore Authority.
(ditulis bulan April 2012)
Langganan:
Postingan (Atom)